jump to navigation

KALAU AKU SUDAH TUA 26 Agustus 2008

Posted by iboeng1211 in KISAH KITA.
add a comment

Kalau aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Kalau pakaianku terciprat sup,
kalau aku lupa bagaimana mengikat sepatu,
ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Kalau aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu
yang telah bosan kau dengar,
bersabarlah mendengarkan,
janganlah memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil,
aku selalu harus mengulang cerita
yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tertidur.

Kalau aku memerlukanmu untuk memandikanku,
janganlah marah padaku.
Ingatlah sewaktu kecil aku harus memakai
segala cara untuk membujukmu mandi?

Kalau aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi
dan hal-hal baru, jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar
menjawab setiap “mengapa” darimu.

Kalau aku tak dapat berjalan,
ulurkanlah tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau
belajar berjalan waktu masih kecil.

Kalau aku seketika melupakan pembicaraan kita,
berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting,
asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Kalau kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika
kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk
bagaimana menjalani kehidupan ini,

Sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran,
aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur,
dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu

by. Motivasi_Net@yahoogroups.com

RACUN 24 Agustus 2008

Posted by iboeng1211 in KISAH KITA.
add a comment

SEMUA kejadian pasti bermakna, tak peduli bikin sedih atau sakit
hati. Maka, nasihat arif yang acap kita dengar adalah: ”Petik
manfaatnya, ambil hikmahnya.” Ubahlah cara pandang! Istilah
kerennya, reframing. Yaitu upaya membingkai ulang sebuah kejadian
dengan mengubah sudut pandang secara positif.

Maka, jadilah sebuah kebencian bersulih cinta. Ketakutan mewujud ketenteraman batin. Dan, yang tampak ”tidak adil” terlihat sebagai anugerah yang perlu disyukuri. Apalagi jika mampu melihat secara polos, alami tanpa ego, maka akan tergambar cinta kasih yang hidup dalam setiap renik penciptaan-Nya. Hidup pun benar-benar tenteram tanpa dibayangi ketakutan. Pelukis, pemusik, dan sastrawan besar India, Rabindranath Tagore (1816-1941), menulis begini: ”Di belakangku ada kekuatan tak terbatas, di depanku ada kemungkinan tak berakhir, di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung. Dan, semua itu ada Yang Mengatur. Kenapa mesti takut?”

Ya, kenapa mesti takut? Sunan Bonang alias Makhdum Ibrahim, yang lahir pada pertengahan abad ke-15 dan meninggal pada abad ke-16, menulis sajak begini:

Jangan terlalu jauh mencari keindahan
Keindahan ada di dalam diri
malah seluruh dunia ada di dalam diri
Jadikan dirimu cinta
Supaya dapat memandang dunia
Pusatkan pikiran heningkan cipta
Siang malam, berjagalah!
Segala yang ada di sekelilingmu
Adalah buah amal perbuatanmu

Jadikan dirimu cinta supaya dapat memandang dunia! Kalimat yang bermakna dalam. Dr. Deepak Chopra, ahli psikospiritual India, menulis dalam The Way of the Wizard, Rahasia Jurus Sang Empu, cinta adalah ”yang meluluhkan segala ketidakmurnian, sehingga yang masih ada hanya yang sejati dan yang riil.” Selama kaupunya takut, kaupunya kemarahan, kaupunya ego yang mementingkan diri sendiri, kau tidak bisa benar-benar mencintai. Dan, tidak ada orang yang tanpa cinta. Yang ada hanya orang yang tidak bisa merasakan kekuatan cinta. Cinta itu lebih dari suatu emosi atau suatu perasaan. Cinta lebih dari kegairahan. ”Cinta adalah udara yang kita hirup sebagai napas… dan beredar dalam tiap sel.” Cinta adalah kekuatan tertinggi karena tiada paksaan.

Cinta itu pula yang menggerakkan saya membagi kisah dari e-mail seorang rekan. Ceritanya, di zaman Cina kuno, seorang wanita muda yang baru menikah, Li-Li, tinggal di rumah ”mertua indah”. Setelah berhari-hari berkumpul, dia menyimpulkan tidak cocok dengan si ibu mertua. Tiada hari tanpa debat dan tengkar. Li-Li tambah kesal karena adat Cina kuno mengatakan: ”Harus selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertua dan menaati semua kemauannya.” Suami Li-Li, seorang yang berjiwa sederhana, sedih menghadapi keributan yang tiada pernah henti itu.

Akhirnya, Li-Li tak tahan lagi, dan bertekad melakukan sesuatu. Ia pun pergi ke rumah sahabat ayahnya, Sinshe Wang, yang memiliki toko obat. Ia ceritakan kekeruhan di rumah dan mohon agar dibuatkan racun
bagi si ibu mertua. Sinshe Wang berpikir keras sejenak, lalu berkata: ”Li-Li, saya mau membantu menyelesaikan masalahmu, tapi kamu harus mendengarkan saya dan menaati apa yang saya sarankan.” Jawab Li-Li: ”Baik, Pak Wang. Saya akan mengikuti yang Bapak katakan.” Wang mengambil ramuan dan berpesan: ”Kamu tidak bisa memakai racun keras yang mematikan seketika untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena itu akan membuat orang jadi curiga. Saya memberimu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan jadi racun dalam tubuhnya.” Untuk itu, ”Setiap hari sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya. Lalu, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati dan bersikaplah sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti seorang ratu,” kata Wang.

Li-Li sangat senang dan berterima kasih pada Wang. Buru-buru dia pulang untuk memulai rencana membunuh ibu mertua. Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu, Li-Li melayani
mertuanya secara manusiawi. Disuguhkannya makanan lezat yang sudah ”dibumbui”. Pokoknya, sesuai petunjuk agar tak menimbulkan kecurigaan. Ia mulai belajar mengendalikan amarah, menaati perintah ibu mertua, dan memperlakukannya seperti ibu sendiri. Enam bulan berlalu, dan suasana berubah drastis. Li-Li sudah mampu menguasai diri. Ia tak pernah kesal atau marah lagi. Ia juga tak pernah berdebat dengan ibu mertua. Begitu pula si ibu mertua. Jauh lebih ramah. Li-Li dianggap sebagai putri sendiri. Tak hanya itu, diceritakan pada kawan dan sanak famili bahwa Li-Li menantu paling baik yang ia peroleh.

Suatu hari, Li-Li menemui Sinshe Wang. ”Pak Wang, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan pada ibu mertua tidak sampai membunuhnya. Ia telah berubah jadi wanita sangat baik sehingga saya mencintainya, seperti ibu sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan kepadanya,” kata dia. Wang tersenyum. Ia mengangguk-angguk, lalu berkata: ”Li-Li, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu itu hanyalah penguat badan untuk menjaga kesehatan…. Satu-satunya racun yang ada adalah yang terdapat dalam pikiranmu sendiri dan di dalam sikapmu terhadapnya. Tapi semua itu telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya.”

Cinta memang dahsyat. Pepatah Cina kuno mengatakan: ”Orang yang
mencintai orang lain akan dicintai juga sebagai balasannya.” Dan,
itu sudah dibuktikan Li-Li, walau pada awalnya karena keterpaksaan.

by. Motivasi_Net@yahoogroups.com

1000 BURUNG KERTAS 23 Agustus 2008

Posted by iboeng1211 in KISAH KITA.
add a comment

Sewaktu boy dan girl baru pacaran, boy melipat 1000 burung kertas buat
girl, menggantungkannya di dalam kamar girl. Boy mengatakan, 1000 burung kertas
itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.

Waktu itu, girl dan boy setiap detik selalu merasakan betapa indahnya
cinta mereka berdua.

Tetapi pada suatu saat, girl mulai menjauhi boy. Girl memutuskan untuk
menikah dan pergi ke Perancis, ke Paris tempat yang dia impikan di dalam
mimpinya berkali-kali itu!!

Sewaktu girl mau mutusin boy, girl bilang sama boy, “Kita harus melihat dunia
ini dengan pandangan yang dewasa. Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua
kalinya!! Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik. Kamu terlalu
miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah
menikah.!!”

Setelah Girl pergi ke Perancis, Boy bekerja keras, dia pernah menjual
koran, menjadi karyawan sementara, bisnis kecil, setiap pekerjaan dia
kerjakan dengan sangat baik dan tekun. Sudah lewat beberapa tahun… Karena pertolongan teman dan kerja
kerasnya , akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan. Dia sudah kaya,
tetapi hatinya masih tertuju pada Girl, dia masih tidak dapat
melupakannya.

Pada suatu hari, waktu itu hujan, Boy dari mobilnya melihat sepasang
orang tua berjalan sangat pelan di depan. Dia mengenali mereka, mereka
adalah orang tua Girl. Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil
pribadi, tetapi juga mempunyai Vila dan perusahaan sendiri, ingin mereka tahu
kalau dia bukan seorang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang Bos. Boy
mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang tua tersebut.

Hujan terus turun, tanpa henti, biarpun kedua org tua itu memakai
payung,tetapi badan mereka tetap basah karena hujan. Sewaktu mereka sampai tempat tujuan, Boy tercengang oleh apa yang ada di depan
matanya, itu adalah tempat pemakaman. Dia melihat di atas papan nisan Girl
tersenyum sangat manis terhadapnya. Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung-burung kertas yang
dibuatkan Boy, dalam hujan burung-burung kertas itu terlihat begitu
hidup.

Orang tua Girl memberitahu Boy, Girl tidak pergi ke paris, Girl
terserang kanker, Girl pergi ke surga. Girl ingin Boy menjadi orang,
mempunyai keluarga yang harmonis, maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap
Boy dulu. Girl bilang dia sangat mengerti Boy, dia percaya kalau Boy pasti akan
berhasil. Girl mengatakan, kalau pada suatu hari Boy akan datang ke makamnya dan
berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi. Boy
langsung berlutut, berlutut di depan makam Girl, menangis dengan begitu
sedihnya. Hujan pada hari Ching Ming itu terasa tidak akan berhenti, membasahi
sekujur tubuh Boy. Boy teringat senyum manis Girl yang begitu manis dan polos,
mengingat semua itu, hatinya mulai meneteskan darah. Sewaktu Orang tua ini keluar dari pemakaman, mereka melihat kalau Boy
sudah membukakan pintu mobil untuk mereka. Lagu sedih terdengar dari
dalam mobil tersebut.

Hatiku tidak pernah menyesal,

Semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,

1000 ketulusan hatiku,

Beterbangan di dalam angin

Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,

Melewati sungai perak,

Apakah aku bisa bertemu denganmu?

Tidak takut berapapun jauhnya,

Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.

Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,

Menambah kerinduan di hatiku.

Bagaimanapun dicari,

Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.

by. Motivasi_Net@yahoogroups.com

KEPERCAYAAN DIRI 15 Agustus 2008

Posted by iboeng1211 in KISAH KITA.
2 comments

Banyak orang pandai menyarankan agar kita memiliki suatu kepercayaan diri yang kuat. Pertanyaannya adalah diri yang manakah yang patut kita percayai?
Apakah panca indera kita?
Padahal kejituan panca indera seringkali tak lebih tumpul dari ujung pena yang patah.
Apakah tubuh fisik kita?
Padahal sejalan dengan lajunya usia, kekuatan tubuh memuai seperti lilin terkena panas.
Ataukah pikiran kita?
Padahal keunggulan pikiran tak lebih luas dari setetes air di samudra ilmu.
Atau mungkin perasaan kita?
Padahal ketajaman perasaan seringkali tak mampu menjawab persoalan logika.
Lalu diri yang manakah yang patut kita percayai?

Semestinya kita tak memecah-belah diri menjadi berkeping-keping seperti itu. Diri adalah diri yang menyatukan semua pecahan-pecahan diri yang kita ciptakan sendiri. Kesatuan itulah yang disebut dengan integritas. Dan hanya sebuah kekuatan dari dalam diri yang paling dalam lah yang mampu merengkuh menyatukan anda. Diri itulah yang patutnya anda percayai, karena ia mampu menggenggam kekuatan fisik, keunggulan pikiran dan kehalusan budi anda.

by. Motivasi_Net@yahoogroups.com

BERPIKIR SEDERHANA 14 Agustus 2008

Posted by iboeng1211 in KISAH KITA.
1 comment so far

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan
membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa
hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya
pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu
di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-
binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang
hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan
parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa
diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri
dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor
rusa besar yang saya incar?”

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti
di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia
berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan,
sia-sia.” Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-
langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi
ternyata, ah… kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia
menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.

Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu
sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika
rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak,
Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum
sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh
sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan
bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-
kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa
mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang
orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak
mendapatkan apa-apa.

Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang
mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim,
baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak
menemukan siapa-siapa

by Motivasi_Net@yahoogroups.com

CERITA DARI GUNUNG 12 Agustus 2008

Posted by iboeng1211 in KISAH KITA.
2 comments

Seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. “Aduhh!” jeritannya memecah keheningan susasana pegunungan. Sibocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejahuan menirukan teriakannya persis sama, “Aduhh!”

Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, “Hei! Siapa kau?” Jawaban yang terdengar, “Hei! Siapa Kau?” Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, “Pengecut kamu!” Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan upatan yang serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, Apa yang terjadi?”

Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, “Anakku, coba perhatiakan”. Lelaki itu berkata keras, “Saya kagum padamu!” Suara di kejahuan menjawab, “Saya kagum padamu!” Sekali lagi sang ayah berteriak “Kamu sang juara!” Suara itu menjawab, “Kamu sang juara!”

Sang bocah keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, “Suara itu adalah GEMA, tapi sesungguhnya itulah KEHIDUPAN”.

Kehidupan memberi umpan balik atas semua dan tindakanmu. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu. Hidup memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu

by. Motivasi_Net@yahoogroups.com